Besar harap.

Sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran, aku harus menyesuaikan dengan waktu yang dimiliki para dosen pembimbing sementara segalanya harus dilakukan dengan mengutamakan etika antara mahasiswa-dokter...

Met Robin Shou and Marcio Fernando da Silva

Sebuah resto tempat makan kita malam itu ternyata banyak pelanggannya, semua kursi full serviced, yang paling mengagetkan yaitu bukan hanya ada pelanggan biasa-biasa saja waktu itu tapi sampe ada tamu luar biasa, yaaah si Robin Shou dan Marcio Fernando da Silva besama kru-nya.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

its means we are the great brothers and sisters medical faculty of Sam Ratulangi'2007

Dedicated for uor "tim KREATIF"...kalian benar-benar melahirkan kreatifitas yg membuat seluruh senior-junior yg hadir semalam tercengang.

Senin, 12 Maret 2012

Merindukanmu, Ibu. (cepat sembuh).

Tetes air mata
Hanyalah menyampaikan sepenggal dari isi hati
Saat ini, aku...
Merindukanmu ibu

Wajah indah peneduh yang selalu mampu menarik garis bibir ku sembringah
Kala termangu dipangkuanmu, aku rindu
Kadang ada seringai aku lepaskan
Menumpah jiwa anakmu yg tak mampu menjadi sepertimu
Sekuntum rindu kubalut dalam doa
Diiringi deras air pengharapan pada Rabbku

Ibu, kini kau tidaklah seutuh ketegaran sosok dahulu
Jiwamu lembut, ragamu tegas menampakkan
Penuh kasih namun tak sekadar itu
Secarut rindu untuk mencium tangan lembutmu

Jiwaku hancur tak dapat bersua denganmu
Hasratku besar memeluk, mengecup kening syahdumu
Kau tak seperti sediakala, tergolek perlahan ditemani waktu
Membalas semuanya sekalipun tak akan pernah kusanggupi

Sebesar apapun, aku hanyalah putri kecil dihadapmu
Merengek kala sendu, bersenda gurau kala riang
Saat ini doalah jihad terbesarku untukmu ibu
Allah yang menyaksikan dan mengijabah

Ibu, semoga kau cepat sembuh
Anakmu berbesar harap
Walau ku tahu sayang ku sekalipun tak akan mampu menyamai besar sayangmu untuk anakmu
Aku menyayangimu, ibu...

U'r daughter,
NI.

Rabu, 07 Maret 2012

Dokter muda... (1)

Sebuah aktifitas baru yang sudah sejak 2 hari yang lalu aku lakukan, sebuah jenjang tugas keprofesian setelah lebih 4 tahun menimbah ilmu pengetahuan tanpa henti, susah senang, mudah sulit, bagaikan grafik tangen yang naik turun, aktifitas yang akrab disebut "coass" mahasiswa-mahasiswi kedokteran yang telah diwisuda dengan gelar "s.ked" wajib melaksanakan misi keprofesian tersebut sebelum menjadi seorang dokter, karena setelah menerima ilmu akademik kita diharuskan mengimplementasikan pengetahuan yang dimiliki tersebut melalui profesi sebagai coassistent, membantu dan berinteraksi dengan para dokter spesialis supervisor, residen (dokter yang sedang menempuh studi menjadi dokter spesialis), perawat dan tentunya pasien.

Alhamdulillah... semua harus dijalani dengan penuh keikhlasan.
Sabar, tekun, man jadda wajada !

Ilmu Kedokteran Jiwa atau akrab dikenal dengan Psikiatri adalah bagian dari praktek ilmu kedokteran yang menjadi tempat awalku menginjakkan kaki di rumah sakit dengan mengenakan jas putih. :) Ada nikmat kebanggaan tersendiri yang aku rasakan. "Terima kasih ya Allah, Ayah, Ibu...berkat kalian aku telah melangkah sampai sejauh ini." ucapku dalam hati. Di Psikiatri sendiri adalah tempat para pasien yang tengah mengalami atau bermasalah dengan aspek psikologinya, mental, kepribadian, emosi, dsb dengan berbagai macam penyebab (stressor). Ternyata persepsi yang melekat bahwa psikiatri merupakan tempatnya para orang gila, menakutkan, sarat nuansa berbahaya, dsb adalah berlebihan. Tidak semua pasien itu menakutkan loh atau berbahaya sebaliknya mereka begitu menyenangkan, mereka membutuhkan kehangatan dan kasih sayang, bahkan tak sedikit pasien yang mampu membuat kami (seisi ruangan) ikut tertawa dibuatnya. Aku bergidik dalam hati. "kalian yang mau berjuang melawan sakit yakinlah pasti bisa pulih"

Kehidupan mengajarkanku untuk lebih peka dengan keadaan disekitar tanpa melupakan keselamatan diri. Profesi yang aku geluti merupakan pilihan yang aku ambil sebelumnya yang tentu saja memiliki konsekuensi. Aku harus rela waktuku sebagian besar untuk rumah sakit dan pasien, aku harus bertahan walau lelah dan letih, aku tak boleh bosan untuk terus dan terus membaca dan menambah ilmu pengetahuan. Aku tak boleh mengeluh apalagi dikalahkan oleh rasa kantuk yang luar biasa. :)

Perasaan yang luar biasa tak terlukiskan, semua aku persembahkan untuk kedua orang tuaku. Seberapa besar dan sekuat apapun usaha membalasnya tidak akan mampu menyamai bahkan membayar jasa kedua orang tua. Syukron ya Rabbi, aku begitu mensyukuri dan menghargai usaha jerih payah selama ini. 

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung padaMu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung padaMu dari lilitan hutang dan dominasi manusia...”

Sampai jumpa lagi dicatatan dokter muda selanjutnya..., insya allah ! :)

Love, 
NI.

Kamis, 24 November 2011

malam racau meracau di balkon kamar lantai 4

Di balkon lantai 4 tampak langit berhias banyak bintang, namun tak nampak rembulan diantaranya. Mungkin langit sedang tak berkenan dia hadir. Dari sini, semua tenang, tak ada aktivitas ramai para penghuni sekitar. Malam seperti ini menjadi surga para pekerja arus bawah untuk istirahat. Aku masih saja mencoba utk menemukan cahaya sang rembulan. Bintang begitu banyak, tak terhingga. Apa rembulan yg katanya satu-satunya sedang tak bersahabat dgn langit ?
Kutarik nafas dalam, oh sepertinya masih terdengar kebisingan yg hilang timbul dari bawah, suara musik angkutan umum,tak banyak mereka yg berlalu lalang. Sebenarnya aku takut ketinggian.
Seandainya didunia ini semua manusia hidup berkecukupan. Tak perlulah kaya seperti penguasa diatas menara gading. Asalkan tak ada yg melarat. Hh. Apabila ada kiri tentulah ada kanan. Jika ada kaya pasti miskinpun hadir. Apa yg harus kita ubah utk mendatangkan sesuatu yg lebih baik? Takdir kah atau kodrat?

Pikiran berusaha kosong, suasana ini terasa romantis sementara hawa dingin perlahan-lahan mulai menusuk badan.
Setelah lama terdiam, aku sadar, sahabatku sedari tadi hanyalah sebuah kesepian. Haruskah ku isyaratkan bahwa aku merindukan malamku yg pernah bersamamu? Senyum miris terkembang.

Sementara hawa dingin semakin menjadi, masih sambil menatap luas kedepan, kuteruskan lamunan, mimpi, usaha, dan segalanya yg ada di batok kepala ini sampai mencapai titik nadirnya.

With Love,
NI.

Sabtu, 19 November 2011

Cinta dan Waktu.

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggalah berbagai macam benda-benda abstrak, ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.
Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menelamatkan diri. Cinta sangat kebingunggan sebab ia tidak bisa berenang dan tak mempunyai perahu . Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta. “Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan, “perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku Tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi di perahuku ini”.
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta. “Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini”. Sahut Kecantikan.
Cinta sedih kali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. “Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu”, kata Cinta. “Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendiri saja…” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari cepat naik ke perahunku!” Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan kepada seorang penduduk dipulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. “Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu” kata orang itu. “Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta heran. “sebab”, kata orang itu, “hanya Waktu lah yang tau berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu”

Minggu, 06 November 2011

refleksi

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah pd Mu.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya diatas ranjang rumah sakit)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More